Bahaya Bullying Pada Kesehatan Anak

Bahaya Bullying Pada Kesehatan Anak


Bullying, siapa yang tidak kenal dengan istilah ini? Bullying merupakan salah satu istilah psikologis yang banyak dikenal. Bullying, bisa terjadi dimana saja, di sekolah, di keluarga, lingkungan bermain, bahkan di kantor ataupun tempat kerja sekalipun. Bullying sendiri merupakan suatu kondisi yang berhubungan dengan penindasan, terhadap mereka yang lebih lemah. Dalam bullying, ada niat untuk menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan bagi korban, secara fisik maupun emosional.

Cakupan aksi penindasan sangat luas, mulai dari menendang, menampar, tawuran, menjambak, memukul, membentak, meneriaki, memaki, menghina, mempermalukan, menolak, mencela, merendahkan, menghujat, mencibir, mengisolasi, hingga tindakan yang bernada pelecehan seksual.

Suka atau tidak, bullying masih menjadi norma budaya di hampir setiap sekolah di Indonesia.. Terdapat berbagai dampak yang ditimbulkan akibat bullying. Dampak yang dialami korban bullying tersebut bukan hanya dampak fisik tapi juga dampak psikis. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim seperti insiden yang terjadi, dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.

Dampak Bully

Hasil studi yang dilakukan National Youth Violence Prevention Resource Center Sanders (2003; dalam Anesty, 2009) menunjukkan bahwa bullying dapat membuat remaja merasa cemas dan ketakutan, mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari sekolah. Bila bullying berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dapat mempengaruhi self-esteem siswa, meningkatkan isolasi sosial, memunculkan perilaku menarik diri, menjadikan remaja rentan terhadap stress dan depreasi, serta rasa tidak aman. Dalam kasus yang lebih ekstrim, bullying dapat mengakibatkan remaja berbuat nekat, bahkan bisa membunuh atau melakukan bunuh diri (committed suicide).

Berikut ini adalah beberapa contoh bagaimana bullying bisa mempengaruhi seseorang:

1. Kecemasan (anxiety attack)
2. Depresi
3. Sakit punggung
4. Sakit perut
5. Cedera fisik (patah tulang, luka sobek, dst)
6. Pusing dan kepala berkunang-kunang
7. Mudah marah

Dari sakit kepala hingga sering ngompol

Anak korban bully memiliki tiga kali lipat peluang untuk mengalami sakit kepala, sulit tidur, sakit perut, dan mengompol, serta dua kali lebih mungkin untuk memiliki nafsu makan rendah. Bullying juga dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada kepercayaan diri dan harga diri.

Lebih lanjut, anak-anak yang menjadi pelaku sekaligus korban bully memiliki enam kali lipat peluang untuk mengompol, hampir empat kali lipat untuk mengalami nafsu makan buruk, dan tiga kali lipat peluang mengidap sakit perut.

Anak dan remaja dengan masalah kesehatan kronis seperti asma, kesulitan pendengaran, penglihatan, berbicara, atau gangguan pencernaan berada pada risiko yang lebih besar terhadap aksi penindasan, dan masalah kesehatan yang mereka miliki dapat diperburuk oleh aksi tersebut.

Tidak hanya berpotensi menderita luka fisik dari tindakan penganiayaan itu sendiri, tetapi mereka mungkin juga mengalami kesulitan kesehatan fisik yang bertahan lama bahkan setelah aksi penindasan sudah lama berhenti.

Bullying juga menyebabkan gangguan jiwa

Penelitian NICHD menunjukkan, walaupun pelaku dan korban sama-sama bisa menunjukkan peluang risiko depresi dan kecemasan, namun anak korban bully (termasuk bullying di dunia maya) berada pada risiko yang lebih tinggi dan lebih mungkin untuk mengembangkan gangguan jiwa yang membutuhkan penanganan intensif saat mereka dewasa nanti, jika dibandingkan dengan anak yang tidak menjadi korban penindasan.

Ada beberapa dugaan bahwa penindasan bullying adalah bentuk dari “stres beracun” yang bisa memiliki dampak pada respon fisiologis terhadap kesulitan yang dialami oleh anak, yang kemudian bisa bermanifestasi pada masalah fisik dan mental yang berlanjut di usia dewasa.

"Apapun alasannya, Bullying menyebabkan masalah psikologi berkepanjangan, bahkan dapat menderegulasi sistem respon stress secara biologis, dari penelitian kami tercatat, bahwa korban bully memiliki tingkat peradangan dengan level CRP yang lebih tinggi di dalam tubuh setelah beberapa waktu sejak terjadinya bully," kata William E. Copelan Asisten Professor Arsenault dari Center for Development Epidemiology, Duke University.

Saat dibully, tubuh bereaksi seperti sedang melawan infeksi

Sebuah studi menemukan bahwa korban bullying memiliki tingkat protein dalam aliran darah (protein C-reaktif/CRP) mereka yang tinggi yang berhubungan dengan melawan infeksi — bahkan sampai usia dewasa muda.

CRP adalah "penanda" untuk peradangan, yang berarti kehadirannya mengindikasikan keadaan peradangan yang meningkat didalam tubuh.

Tingginya kadar CRP merupakan respon umum yang menunjukkan bahwa tubuh sedang bekerja baik melawan infeksi, bereaksi terhadap cedera, atau menanggapi kondisi kronis seperti arthritis.

CRP juga adalah peramal risiko yang paling kuat. Wanita-wanita dalam kelompok dengan tingkat-tingkat CRP yang paling tinggi adalah lebih dari empat kali lebih mungkin telah meninggal dari penyakit koroneri, atau telah menderita serangan jantung yang tidak fatal atau stroke.

Penelitian ini menunjukkan bahwa CRP juga dapat meningkat pada kelompok orang yang mengalami penganiayaan oleh orang dewasa di masa kecil mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa tubuh bereaksi dalam cara yang mirip dengan “stres beracun” seperti halnya terhadap infeksi.

Pelaku bully juga terkena dampaknya tetapi sedikit

Pada usia sekolah, peserta yang mengalami beberapa jenis bullying memiliki kadar CRP yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lain yang sama sekali tidak terlibat dalam bullying. Kemudian, di usia dewasa, peneliti menemukan pola yang sama dari temuan tersebut: korban bullying saat dewasa memiliki kadar CRP lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak terlibat dalam bullying. Peserta yang berulang kali dibully menunjukkan tingkat CRP tertinggi.

Sementara itu, walaupun pelaku bully juga menunjukkan gangguan kesehatan dari aksi penindasan yang mereka lakukan, tingkat CRP mereka saat usia dewasa berada pada tingkat terendah dibandingkan dengan kelompok partisipan lainnya. Peneliti berspekulasi, rendahnya tingkat CRP pada mantan pelaku bully saat dewasa ini dapat melindungi mereka terhadap gejala peradangan di kemudian hari.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa pelaku bullying mungkin menikmati peningkatan status sosial, yang diukur dari tingkat peradangan yang rendah. Malahan bullying mungkin melindungi pelakunya dari peningkatan CRP sementara menciptakan konsekuensi yang mirip dengan trauma masa kecil lain pada diri korbannya.

"Tapi ada satu fakta mengejutkan, seorang korban bully yang kembali melakukan bully terhadap orang itu memiliki kadar CRP yang lebih sedikit dibandingkan yang tidak membalaskannya," ujar Professor Arsenault, seperti yang dikutip dalam Medical News Today
Share on Google Plus

About cintia lau

0 comments:

Post a Comment