Kisah pelarian Kim Jong-nam, menghiba agar tak dibunuh Kim Jong-un

Kisah pelarian Kim Jong-nam, menghiba agar tak dibunuh Kim Jong-un



Baru-baru ini, beredar kisah hidup Kim Jong Nam yang katanya pernah beberapa kali menjadi korban percobaan pembunuhan. Dikisahkan pula, Kim Jong Nam pernah menghiba kepada adik tirinya yang mengusirnya ke pengasingan untuk tidak membunuhnya, kata dua politisi Korea Selatan yang mendapat informasi ini dari dinas intelijen Korea Selatan.

Dilansir The Guardian, Jumat (17/2/2017), lima tahun silam, Kim Jong-nam meminta adiknya mencabut surat perintah pembunuhan dirinya. “Kami tak bisa pergi ke mana-mana, tak bisa sembunyi ke mana-mana. Kami tahu pasti satu-satunya cara untuk bebas adalah dengan bunuh diri,” kata Kim Jong Nam dalam surat kepada Kim Jong Un, seperti diutarakan salah seorang dari dua politisi Korea Selatan itu.

AS dan pemerintah Korea Selatan meyakini Kim dibunuh oleh agen-agen dinas rahasia Korea Utara, kendati yang belum lama ini ditangkap sebagai tersangka pembunuhan adalah dua wanita berpaspor Indonesia dan Vietnam serta seorang warga Malaysia.

Putra sulung Kim Jong Il yang bernama Kim Jong Nam ini disembunyikan dari umum selama bertahun-tahun karena ayah dan ibunya, seorang aktris, tidak pernah menikah secara resmi, dan Jong Nam baru diperkenalkan kepada kakeknya, mendiang Presiden Kim Il Sung ketika sudah berusia lima tahun.

Dia menghabiskan pendidikan selama sembilan tahun di sekolah internasional di Jenewa. Pada saat dia pulang ke Pyongyang, ia bergabung di pemerintahan. Ayahnya menjadi kepala negara pada 1994 dan Jong Nam diharapkan kelak akan menjadi penerusnya, sampai terjadi kasus Disneyland.

Pada Mei 2001, Kim Jong Nam tertangkap di Bandara Narita Tokyo karena memakai paspor palsu Republik Dominika. Saat itu dia bersama istri, seorang perempuan pengasuh anak, serta putra mereka yang berusia empat tahun, menurut laporan media massa. Ia mengaku hendak berlibur ke Disneyland bersama keluarga. Mereka dideportasi dan pulang ke Korea Utara melalui Beijing.

Ayahnya merasa dipermalukan dan sejak saat itu kecemerlangan nama Kim Jong Nam telah surut. Ibundanya, Song Hye Rim menjalani kehidupan di Moskow, jauh darinya dan merana hingga tutup usia. Kim disebut-sebut kerap menziarahi makam ibunya di Moskow.

Cinta kebebasan setelah peristiwa Disneyland, Kim Jong Nam lebih banyak menghabiskan hidup di luar negeri, semula di Tiongkok kemudian di Makau. Dinas Rahasia Korea Selatan mengatakan bahwa dia memiliki istri dan anak-anak baik di Beijing maupun di Makau.

"Berhubung saya berpendidikan Barat, saya bisa menikmati kebebasan sejak usia muda dan saya suka hidup bebas," katanya dalam catatan bagi wartawan Jepang Yoji Gomi yang menulis buku biografi Kim Jong Nam pada 2012. "Alasan saya sering mengunjungi Makau adalah karena di situ adalah tempat yang paling bebas dan liberal di dekat Tiongkok, tempat keluarga saya tinggal."

Kedua politisi Korea Selatan itu melanjutkan bahwa Kim Jong Un mengeluarkan perintah pembunuhan abangnya itu begitu berkuasa dan sudah ada satu upaya percobaan pembunuhan yang gagal pada 2012.

Alasan Kim Jung Un ingin mengakhiri hidup abangnya semata karena dia membenci kakaknya itu, kata Kim Byung-kee, salah seorang dari dua politisi Korea Selatan di atas.

Beberapa analis meyakini Jong Un percaya abangnya bisa dimanfaatkan untuk menggulingkan kekuasaan dia.

Setelah percobaan pembunuhan yang gagal itu, Kim Jong-nam tidak pernah tinggal lama di satu tempat dan kerap bolak balik ke berbagai kota di Asia Tenggara dan China.

Kim Jong-nam sendiri tidak bisa menyembunyikan perasaannya untuk merendahkan kemampuan adik tirinya.

“Saya kakak tirinya, tapi saya tak pernah bertemu dia, jadi saya tak tahu,” kata dia kepada Gomi.

“Saya mengkhawatirkan bagaimana Jong Un yang cuma mirip kakek saya, memenuhi keinginan rakyat Korea Utara. Kim Jong-un hanyalah sosok kecil ketika para anggota elite kekuasaan menjadi pemegang kekuasaan yang sebenarnya. Suksesi yang dinastis menjadi lelucon di dunia luar.”

Dia menambahkan, “Rezim Kim Jong Un tidak akan bertahan lama. Tanpa reformasi, Korea Utara akan ambruk dan ketika perubahan terjadi, rezim itu akan ambruk.”

Share on Google Plus

About cintia lau

0 comments:

Post a Comment