OnePlus dan Meizu Dituding Curangi Hasil Benchmark

OnePlus dan Meizu Dituding Curangi Hasil Benchmark


Hasil uji benchmark merupakan salah satu hal yang dilihat calon pembeli ponsel papan atas untuk mencari tahu apakah ponsel yang satu memiliki performa lebih tinggi atau lebih rendah dibanding ponsel lain. Dengan melakukan utak-atik pada sistem operasi, pabrikan ponsel bisa berbuat curang membuat hasil benchmark lebih tinggi dari seharusnya, mengecoh sang konsumen.

Cara curang dilakukan dengan cara memacu sementara performa CPU dan GPU hanya saat sebuah aplikasi tertentu berjalan. Aplikasi yang ditargetkan adalah sejumlah aplikasi benchmark populer. Dengan begitu, skor hasil dari aplikasi benchmark cenderung lebih tinggi dibanding sebenarnya.

Baru-baru ini tim yang berafiliasi dengan situs XDA Developers dibantu oleh tim dari salah satu aplikasi benchmark populer GeekBench berkolaborasi mengungkap beberapa ponsel yang dicurigai bertindak curang terhadap hasil benchmark.

Vendor smartphone China OnePlus dan Meizu diduga melakukan manipulasi atas hasil benchmark di beberapa perangkatnya. Dua lembaga benchmark, Geekbench dan XDA mengatakan hal itu. Perangkat yang dimaksud adalah smartphone Android OnePlus 3T dan Meizu Pro 6.

Pada laporan di situs XDA Developers, kecurigaan mulai tampak saat membaca kecepatan operasi inti CPU ponsel OnePlus 3T saat menjalankan aplikasi benchmark. Inti CPU baik yang besar maupun kecil memasang frekuensi standby yang tinggi, yakni 1.29GHz dan 0.98GHz saat kondisi load CPU 0%. Normalnya, saat kondisi load 0%, CPU besar non-aktif sementara CPU kecil standby pada frekuensi 0.31GHz.

Saat dibedah lebih lanjut, terungkap sistem operasi OnePlus 3T “menunggu” beberapa aplikasi spesifik untuk berjalan, lalu meningkatkan CPU Scaling secara sementara saat aplikasi ditemukan. Aplikasi tersebut adalah Geekbench, AnTuTu, Androbench, Quadrant, Vellamo, dan GFXBench. Kesemuanya merupakan aplikasi benchmark populer yang banyak dijadikan patokan oleh berbagai pihak di dunia ponsel.

Untuk membuktikannya, tim dari Primate Labs membuat aplikasi GeekBench “siluman”. Aplikasi tersebut memiliki nama dan pengenal aplikasi yang berbeda dari GeekBench standar sehingga tidak dapat teridentifikasi sebagai aplikasi benchmark oleh OnePlus 3T. Lalu kedua versi GeekBench ini diuji untuk dibandingkan dengan perangkat yang sama. Hasilnya sangat jelas bahwa OnePlus 3T memaksa seluruh CPU-nya untuk bekerja lebih keras menjalankan GeekBench standar, namun bekerja normal pada GeekBench “siluman”. Perbedaan mencapai 5% dan jelas terlihat dari temperatur CPU setelah beberapa kali diuji berbeda sampai 4 derajat Celsius.


Hal serupa juga ditemukan pada ponsel Meizu Pro 6 Plus. Lebih parahnya, ponsel yang ditenagai chipset Exynos 8890 meraih skor benchmark sampai 75% lebih tinggi dari seharusnya. Diketahui bahwa Meizu Pro 6 Plus tidak sempurna dalam pengaturan antara CPU besar dan CPU kecil. Saat kondisi normal, CPU besar cenderung tidak aktif bahkan saat menjalankan aplikasi berat sekalipun. Namun saat bertemu dengan aplikasi benchmark, CPU besar mendadak aktif dan agresif, mencetak skor yang tinggi. Artinya, konsumen dibujuk dengan skor benchmark kelas atas namun pada penggunaan sehari-hari si konsumen hanya mendapatkan performa ponsel kelas menengah.

OnePlus 3T sendiri dinobatkan sebagai smartphone dengan skor AnTuTu tertinggi sepanjang 2016 lalu, dengan skor rata-rata di atas 163.000. OnePlus 3 pendahulunya juga memiliki skor AnTuTu tinggi, yakni 147.000.

Kasus mencurangi skor benchmark ini bukan terjadi kali ini saja. Pada tahun 2013 berbagai pabrikan ponsel besar pernah melakukan tindakan curang untuk mengakali hasil benchmark menjadi lebih tinggi dari seharusnya. Mereka adalah Samsung, Sony, HTC dan LG. Namun setelah berdiskusi terbuka dengan para ahli di industri ponsel serta para jurnalis, produsen ponsel tersebut menghentikan praktek curangnya ini demi kejujuran terhadap seluruh konsumen.

Pada 2014 lalu Samsung menuduh Nvidia mengutak-atik hasil skor benchmark chipset Tegra K1 keluarannya. Hal ini dilakukan agar Tegra K1 terlihat lebih unggul dari chipset buatan Samsung, Exynos 5433. HTC juga pernah dikabarkan menggenjot performa CPU saat aplikasi benchmark dijalankan.

Bagi XDA Developer hal ini sangat merugikan konsumen dan tidak etis. Untungnya saat ini diuji dengan ponsel merek lain dari Samsung, HTC, Sony, Xiaomi dan LG tidak ditemukan kecurangan. Sejauh ini, hanya OnePlus dan Meizu yang menjadi sorotan.

OnePlus merespon dengan meminta maaf dan berjanji akan menghapus mekanisme penggenjot CPU saat aplikasi benchmark dijalankan dalam perangkat OnePlus 3 dan OnePlus 3T. Namun, tetap akan melakukanya untuk aplikasi berat lainnya seperti aplikasi permainan 3D.

Sayangnya Meizu belum memberikan jawaban yang sama. Tim XDA tetap akan melakukan pengawasan agar tidak merugikan konsumen.
Share on Google Plus

About cintia lau

0 comments:

Post a Comment