Runtuhnya Perusahaan-perusahaan Besar Karena Gadget

Runtuhnya Perusahaan-perusahaan Besar Karena Gadget


Sudah bukan rahasia lagi jika sekarang semua serba praktis. Apapun yang kamu mau bisa dilakukan hanya dengan ujung jari. Mau pesan makanan, tinggal klik. Begitu juga kalau kamu mau menggunakan ojek dan taksi. Tinggal buka aplikasi, kamu siap dijemput.

Inilah perubahan yang terjadi masyarakat era digital. Nah menariknya, perubahan besar ini justru dimotori anak-anak muda atau yang biasa disebut generasi milenial. Mereka mampu menciptakan revolusi sendiri. Kondisi ini yang disebut Founder Rumah Perubahan, Rhenald Kasali sebagai fenomena 'disruption'.

Sekarang ini kamu tahu nggak sih kalau masyarakat sudah masuk dalam gelombang ke-3 teknologi informasi. Revolusi ini menurut Rhenald sudah terjadi sejak era 1990-an saat internet mulai banyak digunakan. Ketika itu disebut sebagai gelombang pertama perubahan di mana semua orang terhubung (connectivity).

Rhenald Kasali, mewartakan fenomena 'Disruption'  dalam sebuah buku sebagai upaya mendefinisikan perubahan. Ia menyebutnya revolusi, yang saat ini tengah terjadi dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Kemudian pada awal abad 21, masyarakat memasuki gelombang selanjutnya, yakni ketika masyarakat mulai berpikir untuk mengisi keterhubungan tersebut. Ditandai dengan munculnya berbagai media sosial. Akhirnya, gelombang ketiga yang sedang terjadi saat ini: disruption.



"Sekarang kita masuk gelombang ketiga. Itu memindahkan dunia yang sebenarnya ke dalam dunia yang tidak kelihatan," ucap Rhenald di Rumah Perubahan di Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi, Minggu (19/2).

"Kini dunia tengah menyaksikan perpindahan dari mobil bertenaga bensin ke self driving car yang dikendalikan teknologi informasi melalui smartphone," ungkap Rhenald dalam bukunya.

Menurutnya, dengan hal itu, petugas bengkel kelak bukan lagi seorang montir yang dikenal pada abad 20, melainkan para ahli IT yang bekerja dengan perangkat lunak. "Suka tidak suka Internet of Things membentuk kita mulai hari ini," jelasnya.

Saat ini, dunia tengah menyaksikan runtuhnya perusahaan-perusahaan besar, para pemilik brand yang beberapa dekade Ialu begitu memesona dan berkibar.

"Keadaan yang Iebih parah terjadi pada perusahaan atau institusi yang tak pernah menjembatani lintas-generasi. Bridging generations seharusnya menjadi salah satu program penting perubahan pada abad ini yang harus dilakukan berkali-kali," ucapnya.

Dalam buku terbarunya tersebut, Rhenald juga mengatakan, tak ada yang tak bisa diubah sebelum dihadapi. Motivasi saja tidak cukup.



Menurutnya, saat ini semua industri tengah bertarung menghadapi lawan-lawan baru yang tak terlihat, tetapi tiba-tiba menjadi besar. Bahkan, bisa langsung masuk ke rumah-rumah konsumen, dari pintu ke pintu, secara online, melalui smartphone.

"Para pemain lama (incumbent) tak bisa mendeteksi karena lawan-lawan berada di luar jangkauan radar mereka," jelasnya dalam buku Disruption.

Kata Renald, saat dunia berubah, industri lama pun terdisrupsi tanpa bisa terelakkan lagi. Merasa tak berdaya, banyak orang lama memilih untuk tidak menghadapinya.

Mereka memilih untuk bertarung di dalam, bertengkar dengan sesama mereka sendiri ketimbang berpikir dan berinovasi menghadapi Iawan baru di luar sana.

Menariknya, kita menyaksikan bahwa hal itu tak terjadi dalam dunia operator telekomunikasi. Mengapa nasib mereka berbeda dengan operator taksi atau pembuat pesawat telepon atau lndustri non-digital lainnya?

lnilah pertanyaan yang perlu kita jawab. Saat Nokia tergantikan, PT Telkom yang merupakan BUMN lndonesia justru berupaya keras mendisrupsi dirinya sendiri.

"Kita bisa menyaksikan bagaimana Telkom berupaya keras untuk keluar dari perangkap model bisnis lama yaitu fixed line voice," katanya.

Badan usaha berpelat merah itu bahkan berkolaborasi dengan PT Angkasa Pura II membangun platform smart airport, mengembangkan sendiri UseeTV yang mendisrupsi bisnis TV kabel, dan mendirikan perusahaan yang kelak dikenal sebagai third party administrator dalam layanan kesehatan.

Bayangkan saja, sekarang ini kamu bisa pesan barang dan diantar pakai drone. Kondisi ini yang membuat Walmart di Amerika Serikat gelagapan menghadapi Amazon.

Di sektor transportasi, perusahaan taksi konvensional kesulitan menghadapi model taksi online. Uniknya, ketika menggunakan taksi online, si penumpang nggak kelihatan sebagai penumpang. Maklum deh, taksi yang digunakan tak seperti lazimnya.

"Sebab, mobilnya tidak ada argometer, tidak berplat kuning dan tidak ada tulisan merek taksinya," kata Rhenald. Tahu-tahu revolusi ini besar dan mengoreksi kesejahteraan kita” ungkapnya.

Kondisi ini yang beberapa waktu lalu memunculkan gelombang besar-besaran di seluruh dunia terhadap lahirnya taksi Uber, khususnya di New York dan Paris. Begitu juga dengan ojek online yang dianggap menggusur keberadaan ojek konvensional di Indonesia.

Dalam buku itu diberi beberapa realita yang kini tengah terjadi dalam kehidupan manusia pada era digital. Buku itu ditujukan untuk membantu pengusaha atapun masyarakat luas dalam menentukan pilihan berbisnis maupun bekerja.

Pada zamannya, Nokia menguasai pasar dan selalu berinvonasi, namun, saat ini, mengalami kejatuhan yang signifikan. Menurut Rhenald, CEO Nokia pernah berkata, “Kita tidak pernah melakukan kesalahan apapun, tiba2 kami kalah dan punah.”

Contoh kasus lain di Indonesia, adalah Blue Bird selama ber-tahun2 menguasai pasar transportasi tetapi saat ini kalah oleh mobil2 tak terlihat bermerek taksi tapi beroperasi layaknya seperti taksi. Buku ini hadir membawa IPTEK baru dari kebiasaan2 di masa depan yang tidak relevan dan terus berubah-ubah.

“Harapannya ekonomi kita tidak ter-disrupt kekuatan besar dari luar, ini menyadarkan kita, ini lho masalahnya, ini yang jadi ancaman besar, ini strategi, mindset (pola pikir) harus begini, kalau nggak begini kita akan hilang, nanti kedepan revolusi mental harus, karena harus ada distruption mindset,” pungkasnya.



Menurut Rhenald, pada zamannya, Nokia berhasil menguasai pasar dan selalu melakukan invonasi, namun nyatanya, saat ini, mengalami kejatuhan yang signifikan. Menurut Rhenald, CEO Nokia pernah berkata, "Kita tidak pernah melakukan kesalahan apapun, tiba-tiba kami kalah dan punah."

Contoh kasus lain yang terjadi di Indonesia, adalah perusahaan Blue Bird di mana selama bertahun-tahun menguasai pasar transportasi tetapi saat ini kalah oleh mobil-mobil yang tak terlihat bermerek taksi tetapi beroperasi layaknya seperti taksi.

Dengan itu, buku ini hadir membawa pengetahuan baru dari kebiasaan-kebiasaan di masa depan yang tidak relevan dan terus berubah-ubah.

Nggak cuma transportasi, pusat perbelanjaan juga begitu. Saat ini banyak orang memilih belanja dengan cara online. Jadi konsumen ke mal hanya sekadar untuk makan atau jalan-jalan saja.

"Ini terjadi begitu cepat dan meluas. Ini adalah akhir dari zaman tatap muka. Sekarang adalah zaman digital," sambung Rhenald.

Setidaknya, saat ini setiap orang hanya membutuhkan satu gadget untuk memenuhi berbagai keperluan. Cukup memanfaatkan aplikasi karena sekarang era disrupsi.

"Harapan saya ekonomi indonesia tidak ter-disrupt oleh kekuatan besar dari luar, ini kan seperti menyadarkan orang Indonesia, eh ini lho masalahnya, ini yang jadi ancaman besar, ini strateginya, mindset (pola pikir) harus begini, kalau nggak begini kita akan hilang, nanti kedepan revolusi mental harus, karena harus ada distruption mindset," pungkasnya.
Share on Google Plus

About cintia lau

0 comments:

Post a Comment