Ahok: Saya Ibarat Seekor Ikan Kecil Nemo di Tengah Jakarta

Ahok: Saya Ibarat Seekor Ikan Kecil Nemo di Tengah Jakarta


Terdakwa penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membacakan pledoi atau nota pembelaan dirinya di hadapan hakim sidang di Auditorium Kementerian Pertanian, hari ini (Selasa, 24/4).

Ada yang unik dari pledoi yang dibacakan Ahok. Ia mengulas film Finding Nemo yang bercerita tentang kehidupan seorang ikan di dalam laut.

Ahok mengatakan, papa Nemo tidak memberikan izin Nemo karena khawatir Nemo akan tertangkap karena banyak ikan yang terjepit jaring. Nemo tetap nekat masuk ke jaring karena badannya kecil. Sementara yang masuk ke jaring ikan yang berukuran besar.

"Setelah semuanya bebas, apakah mereka ada yang berterima kasih ke Nemo? Tidak ada," ujar Ahok, Selasa (25/4/2017).

Menurut Ahok, saat ini, dirinya hidup di lingkungan orang yang salah arus saat berenang. Sama halnya seperti Nemo.

"Sekalipun kita melawan arus semua, melawan semua orang yang berbeda arah, kita harus tetap jujur. Mungkin setelah itu tidak ada yang terima kasih sama kita, kita juga tidak peduli karena Tuhan yang hitung, bukan kita. Nah ini pelajaran dari film ikan nemo. Jadi, orang tanya sama saya, kamu siapa? Saya bilang saya hanya seorang ikan kecil nemo di tengah Jakarta. Ini pelajaran untuk kita, lalu disambut tepuk tangan anak-anak," kata Ahok saat membacakan pledoinya dengan judul "Tetap Melayani Walau Difitnah".

Dalam pembelaannya, Ahok juga bersikeras mengatakan tak ada niat untuk melakukan penodaan agama seperti yang dituduhkan kepada dirinya. Sama halnya seperti yang sebelumnya disampaikan oleh jaksa penuntut umum (JPU).

"JPU akui tidak melakukan penistaan agama dan saya bukan penista saya tegaskan tidak menghina golongan apa pun," kata Ahok.

"Haruskah saya masih dipaksakan bahwa saya seorang penista agama. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap agama atau penginaan kepada suatau golongan? tuturnya.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) telah menuntut pidana penjara selama satu tahun dengan masa percobaan dua tahun terhadap Ahok.

"Maka disimpulkan perbuatan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sudah secara sah, terbukti, dan meyakinkan telah memenuhi rumusan-rumusan unsur pidana dengan pasal alternatif kedua pasal 156 KUHP," kata Ali Mukartono, Ketua Tim JPU saat membacakan tuntutan tersebut pada Kamis (20/4).
Share on Google Plus

About cintia lau

0 comments:

Post a Comment