Pendeta Korban Sandra Teroris Maute Dikabarkan Masih Hidup

Pendeta Korban Sandra Teroris Maute Dikabarkan Masih Hidup


Pendeta Katolik yang disandera militan Maute saat bentrokan pecah di Marawi, sebulan lalu, dilaporkan masih hidup, kendati kondisi kesehatannya tidak diketahui.

Hal tersebut dikonfirmasi militer Filipina yang terus melakukan gempuran guna mendesak militan yang telah berbaiat pada ISIS itu agar menyerah.

Romo Teresito "Chito" Suganob disandera militan Maute bersama sekelompok umat Kristen pada 23 Mei dan hingga kini belum dibebaskan. Pada Minggu (25/6) militer mendapat laporan Romo Suganob masih hidup, dia terlihat di wilayah yang masih dikuasai militan.

“Kami tidak mengetahui kondisi kesehatannya secara detail, kami hanya menerima laporan bahwa dia masih hidup,” ujar juru bicara militer Filipina Letnan Kolonel Jo-Ar Herrera

“Selama lima minggu ini militan pro-ISIS  itu dengan sengaja membakar rumah dan menggunakan bom modifikasi, booby traps atau jebakan maut, dan sandera sebagai perisai untuk mencegah pasukan militer mengambil tindakan. Beberapa hari ini situasi agak kondusif karena sedang Lebaran,” kata dia.

Dia menambahkan sekitar 100 warga menjadi sandera penembak kelompok Maute yang berafiliasi dengan ISIS.

Para sandera itu digunakan sebagai perisai manusia, pemasak, pembawa amunisi dan pembawa tandu.

“Operasi serangan kami masih akan berlanjut sehingga kami bisa membebaskan Marawi secepat mungkin. Setelah Lebaran, kami akan melancarkan serangan yang lebih besar,” tutup Herrera.

Duterte telah mengumumkan darurat militer di Mindanao menyusul serangan teror di Marawi.

Laporan media pada 26 Juni mengatakan bahwa orang-orang bersenjata tersebut menawarkan untuk membebaskan imam tersebut dengan imbalan kebebasan orang tua Maute bersaudara yang ditangkap.

Jesus Dureza, penasihat presiden Duterte, mengatakan bahwa tawaran itu tidak mungkin, dan menambahkan bahwa pemerintah tidak bernegosiasi dengan teroris.

“Jika kita mau memenuhi tuntutan mereka, nampaknya mereka juga meneror kita. Jadi negosiasi tidak mungkin dilakukan,” kata Dureza.

Pihak militer mengatakan bahwa pembicaraan antara pemimpin agama dan teroris pada 25 Juni tidak disetujui oleh angkatan bersenjata.

Ratusan orang bersenjata yang mengibarkan bendera hitam ISIS menduduki bagian Marawi sejak 23 Mei lalu. Peristiwa tersebut menjadi awal pertempuran berdarah yang telah menewaskan hampir 400 orang dan mengakibatkan sekitar 300.000 orang terpaksa melarikan diri.
Share on Google Plus

About cintia lau

1 comments:

  1. ISIS bukanlah teroris seperti kalian wahai para thoghut yang selalu membunuh umat islam. http://transparan.id

    ReplyDelete